END

Kamu bukan orang yang jahat, tapi kamu juga bukan orang yang cukup baik untukku. Kamu setia, tapi hanya dalam bentuk bertahan, bukan dalam bentuk usaha untuk membuat hubungan ini berkembang. Kamu bilang ingin bersama, tapi tindakanmu sering setengah hati. Kamu tidak kasar, tapi juga tidak cukup hangat. Kamu tidak meninggalkanku, tapi juga tidak benar-benar menggenggamku.

Aku tidak menuntut kesempurnaan, aku hanya ingin hubungan yang saling tumbuh. Tapi kenyataannya, aku lebih sering merasa sendirian dalam hubungan ini. Aku berusaha berkomunikasi, tapi kamu menganggapnya berlebihan. Aku meminta kepastian, tapi kamu hanya ingin "jalani dulu." Aku ingin merasa dihargai, tapi setiap kali aku mengungkapkan kebutuhanku, aku justru merasa seperti meminta terlalu banyak.

Aku tahu kamu punya prioritas, aku tahu kamu punya cara berpikirmu sendiri. Tapi seberapa lama aku harus mengorbankan kebutuhanku sendiri demi menyesuaikan dengan apa yang kamu anggap cukup? Hubungan ini seharusnya bukan tentang bertahan dalam kebingungan, tapi tentang berjalan bersama dengan tujuan yang jelas. Dan jika itu tidak ada, maka aku harus jujur pada diriku sendiri—bahwa aku berhak untuk berhenti berharap pada sesuatu yang tidak pernah benar-benar ada.


Aku mencoba memahami caramu mencintai, tapi semakin lama, aku hanya merasa lelah. Aku ingin merasa diperjuangkan, bukan hanya dijalani seadanya. Aku ingin hubungan yang berkembang, bukan yang hanya berjalan tanpa arah. Tapi setiap kali aku menyampaikan itu, aku justru merasa seperti orang yang terlalu banyak menuntut.

Kamu memilih untuk bertahan dalam hubungan ini, tapi tidak berusaha untuk membuatnya lebih baik. Aku ingin percaya bahwa ini bukan tentang ketidakpedulian, tapi bagaimana bisa aku terus menunggu perubahan yang mungkin tidak akan pernah terjadi? Aku tidak mau bertahan hanya karena sudah terbiasa. Aku ingin bertahan karena aku merasa dicintai dengan cara yang benar.


Aku pernah mengira cahayamu hanya untukku, menerangi langkahku di tengah gelap. Tapi kini kusadari, kamu hanyalah lampu jalanan—berpendar untuk siapa saja, kadang terang, kadang redup, dan tak pernah benar-benar menjadi milikku.

Aku berjalan di sisimu, berharap hangatmu tak padam. Tapi nyatanya, aku hanya pejalan yang singgah sebentar, sementara kamu tetap berdiri di tempat yang sama, memberi cahaya seadanya, tanpa pernah benar-benar mengarah kepadaku.

Komentar

Postingan Populer