MASALAH KEHIDUPAN REMAJA


    Hallo semuanya karena sudah lama tidak memposting sesuatu, kali ini saya akan sedikit menganalisis tentang film entah itu animasi atau lainnya. Karena Hari ini saya telah menonton Ruby Gillman, Teenage Kraken, yang saya pikir akan seru dan ternyata biasa aja bagi saya. Konflik dan permasalahannya sangat klise, mungkin karena film ini dibuat dengan naskah yang sederhana dan mudah dipahami. 

    Dan yang membuat saya berpikir adalah kenapa anak remaja selalu menentang orangtua yang berakibat penyesalan karena tidak mendengarkan perkataan mereka. So dari sekian banyak film, hal ini sering terjadi Ketika film yang ditampilkan mengkisahkan tentang pertumbuhan remaja. Point tersebut akan menjadi isi dari postingan kali ini. Saya akan menganalisis dari film yang telah saya lihat sebelumnya.

    Kebanyakan film yang saya lihat mulai dari genre romance, drama, dan lainnya, terkadang film yang diperlihatkan membuat para penonton merasa ikut andil dalam kejadian tersebut bahkan ada yang dibuat bertanya-tanya. Tak jarang, beberapa film yang saya lihat pun, saya ikut berpikir karenanya, entah itu alur atau penokohannya. Misal penokohan, kebanyakan permasalahan dengan tokoh orang “dewasa” yang berusia sekitar 30 tahun keatas, dimana permasalahan mereka berkaitan dengan masa lalu yang pernah mereka alami. Misalnya tokoh A menjadi jahat karena masa lalu nya buruk atau memiliki trauma. Sedangkan permasalahan yang dialam oleh remaja adalah penentangan terhadap keluarga terlebih orangtua. Memang betul pada kenyataanya masa remaja adalah masa pubertasi, sama seperti anak kecil, remaja pun ingin tahu akan hal sesuatu, mencari jati diri, perkembangan emosi dan lainnya yang sangat kompleks. 

    Melansir dari American Psychological Assosiation, Teens undergo dramatic changes. In addition to the biological changes of puberty, they experience cognitive changes that allow them to think more abstractly. They become increasingly focused on friends. And as they seek greater independence, they often come into conflict with parents.

Most get through adolescence with few problems, establishing identities and preparing for adulthood. Some, however, experience problems that can lead to dropping out of school, drug use, or crime. 

    Sama halnya seperti series Euphoria, semua konfilik remaja masuk dalam serius tersebut. Remaja adalah sesuatu yang kompleks yang patut dipelajari oleh setiap orangtua, but now, saya tidak akan menganalisis dipoint orangtua tetapi lebih dominan terhadap masalah remaja. Pertanyaan seperti ini manjadi hal utama yang wajib dipertanyakan, karena setiap film yang saya lihat, kenapa remaja selalu menentang orangtua?.

    Hal tersebut saya ketahui setelah melansir dari website visecoach.com dengan judul Ketahui Alasan Anak Remaja Kerap Bersikap Menentang. Berontak kepada orangtua ternyata sikap normal dari pertumbuhan remaja. Dimana fase ini sedang mencari identitas pribadinya dan sepaptutnya orangtua membimbing dan memperhatikannya. 

Meurut ilmu medis, fase ini merupakan bagian dari pertumbuhan otak  prefrontal cortex yang mengendalikan pembuatan keputusan, perilaku sosial, dan ekspresi kepribadian. Di masa remaja, fungsi bagian otak ini bekerja untuk memahami batasan, argumen, dan proses pembuatan keputusan. Dan, pada kenyataannya, remaja harus bisa membuat keputusan sendiri dan melakukan kesalahan untuk mengembangkan fungsi prefrontal cortex-nya secara utuh.

Lantas mengapa remaja bersikap menetang?

1. Berjuang untuk kebebasan

2. Kebutuhan untuk memegang kendali

3. Berjuang untuk penerimaan diri

4. Mencari perhatian

5. Kekhawatiran orangtua yang berlebih

6. Perubahan hormon

Jika kalian ingin membacanya lebih jauh silahkan klik website ini ach.com/articles/read/ketahui-alasan-anak-remaja-kerap-bersikap-menentang

Seperti pada point ke-1 series After adalah salah satunya, point ke-2 Moana Sedangkan Point ke-5 menjadi salah satu factor yang sering dijumpai dalam film seperti Ruby Gillman, Teenage Kraken dan point ke -6 sama halnya akan series Never Have I Ever. Sebetulnya banyak banget film yang mengisahkan tentang sikologis remaja ini, tapi saya tidak mungkin untuk menyebutkanya dan membahasnya satu persatu. 

    Menurut saya fase remaja ini sama seperti fase pertumbuhan anak-anak namun jauh lebih kompleks karena mereka memiliki alasan dan pikirannya masing-masing. Selanjutkan mari kita bahas mengenai teori tentang Period of Storm and Stress. Pembahasan ini saya lansir dari rsj.babelprov.go.id. Silahkan klik ini untuk info lebih lanjut https://rsj.babelprov.go.id/content/mari-mengenal-period-storm-and-stres#:~:text=Period%20of%20Storm%20and%20stress%20adalah%20suatu%20istilah%20yang%20merujuk,masa%20perkembangan%20pikiran%20menuju%20dewasa.

Menurut Stanley Hall – Bapak Psikologi Remaja, masa remaja adalah masa kelahiran baru yang ditandai dengan gejala yang menonjol, yaitu : perubahan pada seluruh kepribadian dengan cepat; perubahan pada segi biologis, mulai berfungsinya kelenjar kelamin dan sikap sosial yang eksplosif dan bergelora. 

Gunarsa (1989) merangkum beberapa karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri remaja, yaitu :

1. Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan.

2. Ketidakstabilan emosi.

3. Adanya perasaan kosong akibat perombakan pandangan dan petunjuk hidup.

4. Adanya sikap menentang dan menantang orang tua.

5. Pertentangan di dalam dirinya sering menjadi pangkal penyebab pertentangan-pertentang dengan orang tua.

6. Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuanya.

7. Senang bereksperimentasi.

8. Senang bereksplorasi.

9. Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan.

10. Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok.

Psikologi memandang periode remaja sebagai periode yang penuh gejolak dengan menamakan period of storm and stress. Arnett menarik tiga tantangan tipikal yang secara general biasa dihadapi oleh remaja :

1. Konflik dengan orangtua

2. Perubahan mood yang cepat

3. Perilaku beresiko.

Period of  Storm and stress adalah suatu istilah yang merujuk kepada masa remaja, dimana pada masa tersebut remaja sedang mencari jati dirinya. Mereka sedang berada pada masa perkembangan pikiran menuju dewasa. Kadangkala remaja menemukan persoalan ataupun gejolak yang berat layaknya badai yang membuat mereka galau dan stres berat dalam memikirkan kehidupan perasaan dan emosinya. Oleh karena itu masa remaja sering dikaitkan dengan kata istilah storm and stress. 

Masa remaja adalah masa emas, merupakan masa yang sangat strategis untuk mencari dan mengembangkan potensi diri, karena pada usia ini perkembangan kognitif (kemampuan anak untuk berpikir) sudah mencapai tahap perkembangan operasional formal (anak sudah mampu berpikir abstrak dan logis dengan menggunakan pola berpikir “kemungkinan”), dimana mereka sudah mampu bernalar secara logis (sistem atau cara untuk memikirkan sesuatu secara rasional dan tidak berhubungan dengan hal – hal yang tidak masuk akal fikiran manusia.

Pada usia remaja dominasi teman sebaya memiliki peran yang cukup besar, tidak mengherankan jika banyak remaja yang terjerumus kasus narkoba, pergaulan bebas, minum-minuman keras yang diakibatkan lingkungan dan pengaruh teman pergaulan. Begitu juga sebaliknya, remaja yang berkembang dalam lingkungan yang potensial bersama orang-orang yang memiliki pola pergaulan sehat dan bersemangat untuk mencapai cita-cita akan membentuk remaja yang memiliki citra diri positif. Peran teman sebaya terkadang ‘menggeser’ peran orangtua sebagai kelompok referensi tidak jarang membuat tegang hubungan remaja dan orangtua. Teman sebaya menjadi ukuran bahkan pedoman dalam remaja bersikap dan berperilaku. Meskipun demikian studi Stenberg menemukan bahwa teman sebaya memang memiliki peran yang penting bagi remaja, namun pengaruh teman sebaya cenderung pada hal-hal yang berhubungan dengan gaya berpakaian, musik dan sebagainya. Sementara untuk nilai-nilai fundamental, remaja cenderung tetap mengacu pada nilai yang dipegang orangtua termasuk dalam pemilihan teman sebaya, biasanya juga mereka yang memiliki nilai-nilai sejenis.

    Mengenai teman sebaya hal ini sangat cocok dengan film Ruby Gillman, karena di film tersebut Ruby jauh lebih memepercayai Chelsea dibanding Ibunya, dimana Chelsea sendiri adalah teman baru Ruby yang menyamar sebagai manusia. Sama halnya dengan Euphoria, dimana Rue berteman dengan seorang pengedar Narkoba, sangat memungkinkan bahawa Rue sendiri adalah pencadu Narkoba. 

    Akhir dari pembahasan ini adalah oragtua sangat berperan penting dalam pertumbuhan anak terlebih lagi fase remaja. Sebagai remaja pun harus pandai memilih lingkungan agar berdampak positif bagi dirinya sendiri. 


Hal ini pun membuat saya tertampar oleh keadaan diri sendiri, selalu berlarut akan menganalisis diri sendiri yang tak pernah habis dipikirkan. Begitu banyak factor yang menjadi alasan dan menimbulkan pertanyaan “kenapa hal ini bisa terjadi?”.

But all about it, jikalau kalian ingin menonton film diatas saya saranin cukuplah menonton 1x, tanpa harus mereplaynya terlebih lagi Euphoria. Euphoria menjadi salah satu serial televisi yang menayangkan tentang semua kehidupan remaja. Hal tersbut biasa terjadi di kehidupan remaja di Amerika Serikat atau bahkan sekarang di Indonesia. I don’t know, because I can’t explain it.


See you!


Komentar

Postingan Populer