Curhatan Hati : Mengapa selalu aku yang mengalah?~

 

Sumber : pinterest.com

Terkadang saya bingung sama hal ini semua apa ini yang dimaksud fase kedewasaan? Fase yang dimana saya harus memahami yang berujung mewajarkan suatu tindakan tertentu?. Hal ini yang ambil dari kasus yang sering saya jumpai dimana kasus ini seakan-akan saya harus mewajarkan tindakan yang dilakukan oranglain.

Contohnya seperti ini, kasus yang cukup sering terjadi di Indonesia. Ketika anak usia perkiraan 4-6 tahun, berantem dengan temannya dan terjadi perkelahin dimana salah satu anak menjadi korban. Dan terjadilah kalimat seperti ini " wajar namanya juga anak-anak, belum paham" kata orang salah satu orang tua, atau orang dewasa lainnya.

Memang ya secara harfiah, anak usia tersebut dominan belum bisa membedakan mana salah dan benar, mana yang bisa menyakiti dan mana yang tidak, belum tahu apa konsekuensinya jika melakukan hal tersebut kepada orang lain. Tapi, orang dewasa tahu kan bahwa perilaku tersebut merupakan perilaku yang buruk. Dalam kasus ini orang dewasa tidak memberikan pengertian kepada anak tersebut bahwa perilaku tersebut tidak baik karena bisa menyakiti oranglain.

"Adek, kaka, (namanya) tidak baik memukul teman, nanti temannya bisa sakit jika dipukul. Tangan kan bukan untuk memukul orang, kasian lho temannya jika dipukul. Gimana kalau adek, kakak (namanya) yang dipukul? Sakit kan?"

Memang anak mengerti ya kalau dibilang seperti itu?

Memang, anak belum sepenuhnya mengerti tapi, sebagai orang dewasa wajib mendidik anak dengan memberitahu tindakan tersebut adalah tidak baik. Anak juga memiliki telinga pasti didengar jika orang dewasa mengajaknya berdiskusi dan diajak untuk menatap matanya serta mengulangi perkataannya, hal tersebut harus diulang terlebih lagi tindakan tersebut terulang kembali. Hal yang tidak membuat anak jenuh adalah diajak bercerita dengan buku yang colorfull untuk menarik perhatiannya. Dibiasakan untuk bercerita agar kita bisa tahu isi dan pikiran anak serta sebagai media pembelajar untuk tindakan dalam kehidupan sehari-hari.


Kasus kedua, terjadi ketika orang dewasa lebih tepatnya orang yang sudah tua berkisaran diatas 50 tahun. Hal ini terjadi oleh saya kemarin-kemarin yang membuat saya heran, bahwa tindakan tersebut harus ya saya wajarkan?, saya pikir itu memang karakter dari orang tersebut yang sudah menempel sampai tua. Jadi tidak ada kata "wajar" lebih tepatnya "watak".

Pada kasus ini saya merasakan bahwa kerja di tempat yang memberikan tekanan terlalu berat membuat saya kurang berkembang secara penuh dan baik. Omongan yang sering memojokkan sama tempat yang sangat kurang nyaman, membuat saya resign secara tiba-tiba karena salah satu alasan tersebut. Dimana anak dari orang yang sudah tua tersebut, seakan-akan mewajibkan saya untuk mewajarkan hal tersebut. 

Lemah mental saya? Mungkin, karena jika terus menerus diperlakukan seperti itu dan kurang baik menurut saya, dan saya memutuskan untuk skip saja, buat apa toh?

"Maaf ya teh, jika perkataan dari ... kurang berkenan. Wajar karena sudah tua".¹

"Yang kaya gitu bakalan ketemu di tempat kerja mana aja"²

Kenapa ya harus ada kata wajar berarti perkataan dan tindakan tersebut tidak sepenuhnya salah? Tergantung konteksnya? Umur? Karena sudah tua, jadi saya harus mewajarkan.¹

Nyatanya, karakter orang tua tersebut memang seperti itu dari masa mudanya.

Betul, dan bukan menjadi suatu rahasia lagi bahwa di dunia kerja pasti ada saja suatu perusahaan yang "tegas" tapi apakah tindakan tersebut benar?. Jika perusahaan tersebut memahami tentang komunikasi, psikologi dan managemen pasti hal tersebut minim terjadi. Kalimat tersebut² terulang lagi maka harus diwajarkan. Nyatanya, memang siapapun itu pasti kena omelannya. Dan itu terus terjadi kepada siapapun sejak bertahun-tahun terlebih lagi pada karyawan di perusahaan tersebut. 


Kasus ketiga, yang membuat saya cukup stres karena saya kurang menerima hal tersebut, yang menurut saya ini tidak bisa di wajarkan.

"Wajar aja, dia ternyata anak broken home". 

Waiiitt!!! Disini saya bukan mau membahas broken home tapi lebih ke karakter dan kenapa saya seakan-akan wajib mewajarkan hal ini.

Saat itu saya masih bekerja dan memang saya mengalami kejenuhan dalam bekerja di tambah lagi datang karyawan baru yang struggle menurut saya. Ternyata setelah kesabaran yang overload, meledaklah saya. Karena suatu alasan yang membuat saya merasa tidak adil. Dan lebih tidak adilnya, saya harus dimakan oleh kenyataan bahwa "dia anak broken home".

How about me? Di dalam hati yang kecil ini. Aku juga buka lahir dari keluarga cemara, yang hahaha hihihi, yang kompak seperti seragam sekolah. 

Big no!!

Saya tidak masalah jika atasan tersebut ingin merecycle brokenhome ini, tapi tolong jangan libatkan saya. Dimana perkataan anda yang pernah bilang bahwa "saya ini professional lho"?

Nyatanya, hal pribadi saja bisa masuk dalam lingkungan kerja. Dan kenapa mengajak saya untuk mewajarkan hal tersebut?. Ternyata track recordnya pun, seperti itu serta bukan cuma saya yang merasakan tapi karyawan lain.

Hal diatas, membuat saya selalu overthinking, dengan ini saya memutuskan untuk menulisnya. Dimana dalam kehidupan ini, Mengapa slalu aku yang mengalah, tak pernahkah kau berfikir sedikit tentang hatiku~Seventeen.

Sumber : pinterest.com


Komentar

Postingan Populer